Potret Kehidupan Masyarakat “Butta Turatea” Jeneponto

Jeneponto adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Jeneponto terkenal juga dengan “Bumi Turatea” dan identik dengan kota “KUDA”, Ya kota kuda. Jika Anda telah masuk ke pusat kabupaten yakni di Bontosunggu [ibukota kabupaten Jeneponto] maka akan tampak sebuah patung kuda sebagai lambang atau simbol kabupaten Jeneponto.

Melanjutkan pembicaraan tentang julukan “Kuda”, hal ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Jeneponto yang gemar memakan kuda. Di pasar-pasar tradisional akan sangat susah untuk mendapatkan daging lain selain daging kuda bahkan tidak ada.

Jarak tempuh dari Makassar ke Jeneponto 2 jam perjalanan dengan jarak tempuh 95 km. Perjalanan ke kabupaten Jeneponto akan melewati 2 kabupaten yakni Gowa dan Takalar.

jeneponto

Saya sendiri adalah asli Jeneponto yang terlahir dan sempat mencicipi pendidikan di sana walaupun hanya sampai sekolah dasar saja, sisanya dihabiskan di Makassar dan Bandung. Tapi saya tidak akan berbicara tentang riwayat pendidikan saya di sini, penulis ingin mengupas tentang kabupaten ini ditinjau dari dua sisi.

Sisi pertama adalah julukan miring atau cenderung mengarah ke hal yang negatif dan sisi baik dari pandangan kacamata saya sebagai putra daerah yang pasti bersifat sangat subyektif. Tapi tidak mengapa, setidaknya dapat memberi gambaran sedikit tentang kabupaten ini.

Jeneponto dikenal dengan istilah “Pa’bambangang Na Tolo” adalah istilah dalam bahasa Makassar yang berarti sering marah tapi berotak dugu. Inilah istilah yang melekat cukup erat terhadap masyarakat Jeneponto sampai saat ini. Memang harus saya akui bahwa dari persentase para pejabat di kota Makassar jika kita mengambil sampel ini maka kenyataannya memang demikian, para pejabatnya didominasi oleh suku bugis meliputi kabupaten Bone, Sinjai, Wajo, dll. Sementara penduduk Jeneponto yang tinggal di Makassar kebanyakan kalangan bawah yang tidak berpendidikan dengan pekerjaan adalah tukang becak, kuli bangunan, buruh pelabuhan dan lain sebagainya walaupun pekerjaan ini bagi saya bukanlah pekerjaan hina karena halal daripada kerja di pemerintahan dengan mengambil hak orang lain dan korupsi.

Saat ditugaskan ke Makassar selama satu tahun, sesekali saya naik becak dari kantor ke rumah yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dengan biaya sebesar Rp. 7.000 untuk sekali jalan. Dari obrolan di jalan, setiap tukang becak yang saya tanya adalah berasal dari Jeneponto. – kasian juga. Beruntunglah dan harus saya syukuri karena dapat mencicipi pendidikan tinggi dan nasib sedikit lebih beruntung dari mereka.

Pedih rasanya hati ini jika menyaksikan semua ini, kok harus Jeneponto?..Apakah orang-orangnya bodoh sesuai dengan julukan bagi masyarakat Jeneponto, atau bagaimana?. Sebagai gambaran saat bersekolah SD di Jeneponto dulu teman-teman banyak cerdas-cerdas. Atau asumsi saya mungkin orang-orang Jeneponto lebih banyak yang low profile sehingga tidak terekspose ke permukaan.

Sisi negatif lain Jeneponto (menurut cerita orang-orang di kendaraan umum saat perjalanan dari Makassar <-> Jeneponto) adalah terdapatnya [maaf] tempat pelacuran kelas teri yang dihuni oleh wanita-wanita di daerah ” Karama’ ” sebelum tikungan tajam dan menurun jika arah kita dari Makassar. Hal ini dapat saya simpulkan secara subyektif karena jeratan kemiskinan yang merajalela sehingga mereka mau melakukannya walaupun dalam hati kecilnya pasti akan berpikir menolak “Pelacuran”.

Saya pun tidak akan larut dengan pembahasan ini karena lebih tertarik untuk mengangkat tentang budaya masyarakat Jeneponto serta kondisi kabupaten ini.

Jeneponto sangat khas dengan makanan tradisional “Coto Kuda dan Gantala Jarang”, Jarang=Kuda (Bahasa Makassar). Saya sendiri senang makan coto kuda ini karena telah terbiasa dari kecil sampai sekarang. Jika ada kesempatan untuk ke sana terutama saat liburan idul fitri maka keluarga pasti akan menyiapkan santapan makanan dari olahan daging kuda. Bagi Anda yang tidak terbiasa dengan makanan ini pasti tidak akan berselera untuk mencicipinya. Tapi masyarakat Jeneponto tidak demikian, dalam pesta-pesta pernikahan tidak akan sah atau ada sesuatu yang kurang jika tamu tidak disuguhi dengan hidangan GANTALA JARANG.

Tentang rasa?. tidak berbeda jauh dengan daging sapi akan tetapi sedikit lebih kenyal. Tapi bagi masyarakat Jeneponto terdapat mitos bahwa dengan makan daging “Jarang” akan memiliki stamina kuat dan pada dagingnya terdapat banyak zat-zat anti tetanus walaupun belum dibuktikan secara medis.

Jeneponto pada dasarnya terbagi dalam dua wilayah yakni daerah pesisir pantai yang cenderung kering dan daerah pegunungan yang cukup subur. Namun Jeneponto lebih dikenal sebagai daerah tandus karena jalur penghubung antar kabupaten berada di pesisir pantai sehingga orang beranggapan bahwa Jeneponto adalah daerah yang tandus.

Daerah ini dikenal cukup tandus apalagi saat musim kemarau tiba untuk kondisi di daerah pesisir pantai sedangkan untuk daerah pegunungan di sebelah utara cukup subur dan dari hasil pertanian dan perkebunan menghasilkan sayur-mayur dan tanaman palawija. kondisi tanah yang tidak bagus bahkan retak-retak di daerah pesisir menyebabkan tumbuh-tumbuhan akan sangat sulit untuk hidup. Gambar berikut adalah kondisi tanah di Jeneponto yang saya potret saat pernikahan kakak saya tahun lalu.

Inilah gambaran betapa tandusnya tanah di Jeneponto saat musim kemarau datang. Kondisi suhu pun sangat panas pada saat itu. Mata pencaharian penduduk Jeneponto sebagian besar adalah petani, nelayan rumput laut, nelayan penangkap ikan, serta petani garam.

Anak-anak, wanita sedang mendorong gerobak air adalah pemandangan biasa di jalan saat Anda melintas di Kabupaten Jeneponto terutama pagi dan sore hari. Sementara orang dewasa (laki-laki) lebih banyak menghabiskan waktunya di sawah dan ladang walaupun tandus dan sebagian lagi sedang melaut. Namun orang-orang  Jeneponto tidak pernah putus harapan untuk menanti anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa air hujan untuk membasahi ladang-ladang milik mereka. Masa paceklik sering dialami oleh masyarakat  jika hujan tidak turun. Akibatnya banyak penduduk Jeneponto yang kemudian beralih profesi dari petani menjadi tukang becak, supir pete-pete dan buruh di Makassar. Walaupun sebagian dari masyarakat Jeneponto tetap berusaha bertahan hidup di kampung halamannya. Karakter keras pada masyarakat Jeneponto mungkin akibat dari susahnya untuk bertahan hidup sehingga semua cara dapat ditempuh apalagi jika yang menjadi haknya diambil paksa oleh orang lain. Namun senyum dari kami (masyarakat Jeneponto) akan tetap Anda jumpai saat Anda bertegur sapa dengan kami. Sebagai penduduk asli Jeneponto, saya merasa kami adalah masyarakat yang sangat ramah bagi siapa saja termasuk bagi para pendatang.

Penulis sendiri terlahir dari sebuah keluarga dimana bapak saya adalah seorang pegawai negeri dan ibu saya adalah seorang pedagang. Sehingga saya tidak terlalu merasakan susahnya hidup di sana namun bagi sebagian besar masyarakat Jeneponto mungkin merasakan kehidupan yang serba sulit itu.

Hal lain yang dapat Anda jumpai dalam perjalanan ke Jeneponto adalah jualan “Ballo Tanning” yang berarti tuak manis yang diproduksi oleh pohon lontar atau dalam bahasa Makassar “Tala’ “. Rasanya memang manis dan tidak memabukkan. Sewaktu kecil, saat bermain-main di persawahan yang bersebelahan dengan perkebunan, saya terkadang ikut “nongkrong” untuk menyaksikan para petani pembuat gula merah (istilah kami untuk gula jawa) sedang membuat gula merah sehingga saya tahu persis bagaimana proses pembuatannya. Tuak manis inilah yang menjadi bahan baku untuk pembuatan gula merah tersebut. Sesaat sebelum matang, kita dapat mengambil sari pati dari olahannya untuk dijadikan “tenteng” (saya lupa namanya-semoga tidak salah, semacam permen gulali dan rasanya sangat manis).

Sisi positif dari Jeneponto adalah budaya siri’ [rasa malu yang tinggi] untuk hal yang jelek-jelek walaupun juga dimiliki oleh hampir seluruh suku di Sulawesi Selatan, tapi budaya ini masih begitu melekat bagi masyarakat Jeneponto sebagai sebuah suku Makassar. Jika harga diri telah diinjak-injak maka mereka lebih rela untuk mati dari pada harga dirinya direndahkan oleh orang lain. Dan salah satu pompa pemicu keberhasilan adalah budaya siri’ ini yang harus melekat dalam diri setiap putra/i Turatea.

Jalur perjalanan yang dilalui sangat indah karena pemandangan pinggir laut dan petak-petak sawah untuk pembuatan garam dapat Anda jumpai di sini.

Satu hal yang bisa membuat Kabupaten Jeneponto bisa maju adalah dengan dibangunnya waduk Kareloe. Jika ini bisa diperjuangkan oleh pemerintah kabupaten Jeneponto maka saya yakin Jeneponto akan berubah. Jeneponto akan Jauh lebih makmur dengan hasil pertanian dan perkebunan tentunya. Setelah itu baru membangun Sumber daya manusianya, tentu Jeneponto akan  sangat maju. Idealis sekali ya, tapi tidak mengapa semoga bisa menjadi sebuah doa tentunya.

Pemerintah kabupaten Jeneponto bisa membangun SDM dengan cara memberikan pendidikan yang lebih tinggi lagi bagi guru dengan pemberian bea siswa dan perbaikan sarana dan prasana pendidikan, Semoga ini bisa terwujud entah pada periode dan pemerintahan siapa, atau pada pemerintahan saya kali ya.heheheh. Ups, saat ini kayaknya belum memungkinkan karena belum punya milliaran rupiah untuk biaya kampanye, dll.  Tapi tetap harus optimis kan.

Demikian sedikit oleh-oleh buat pembaca tentang khasanah tanah air Indonesia khususnya Butta Turatea Jeneponto.

Note:
Penulis sendiri terlahir  dan sempat mengecap pendidikan TK dan SD di Jeneponto. Orang tua
dan keluarga besar berada di Jeneponto.

Comments (46)

  1. za says:

    waaah, ktemu ma askari juga :D

    jadi pengen maen kesana …. *ngayal mode on* menelusuri tepian pantai diatas punggung kuda….Seru, sepertinya…:)

  2. Djuy says:

    Wah jd pgen mendalami ilmu kuda disana…
    Kapan yahhh….????

  3. Taufan says:

    Wah, semuanya kok komentar tentang kuda :D
    Hmm.. tulisannya bagus, langsung dari ‘putra daerah’ sendiri. Yah, idealnya putra daerah yang sudah merantau, kembali ke daerah asal, supaya bisa memajukan daerahnya. Tapi, secara Jakarta adalah pusat ekonomi, cari kerja di daerah juga ga gampang. Apalagi untuk merubah pola pikir masyarakat yang [maaf] kolot. Sumbangsih apa yah, yg bisa kita berikan buat daerah kita? Btw, saya dulu lahir di Boolang Mongondow, tapi umur 1 thn udah pindah ke Bali. Jauh ga itu dari Jeneponto?

  4. Hallo…. semuanya para pejuang pendidikan di Kab Jeneponto. Saya Rafy asal daerah makassar sulawesi selatan, Kab. jeneponto., Desa Maccini Baji(Tolo). Aq adalah salah satu putra daerah yang lagi study di tanah jawa tepatnya di kota pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).Aq sekarang uda semester akhir, untuk menyelesaikan S2 Pascasarjana, Jurusan Sains (PGMI). Minta do,anya moga saya bisa menyelesaikan S2 aq secepatnya ya…, supaya bisa kembali ke SUL-SEL untuk memberikan konstribusi pendidikan yang lebih baik untuk memajukan pendidikan terutama di Kab. Jeneponto.Wassalam.Rafly.Yogyakarta Day

  5. Selamat, semoga bisa menyelesaikan S2-nya ya, Saya sendiri secara pekerjaan sudah tidak bisa kembali lagi ke Jeneponto, tapi saya ingin sekali memberikan sesuatu yang berharga bagi Jeneponto. Semoga sukses dan bisa memberikan kontribusi melalui pendidikan yang bermutu bagi masyarakat Butta Turatea tempat asal kita..

    Salam

  6. Iccank says:

    Akhirnya kutemukan blogmu frend.
    Selamat berkarir di pulau seberang, smoga lebih sukses lg, tp jgn lupa dgn kampung halamannya.
    Aq bangga punya sahabat yang luar biasa……..

    Wahai sahabatku yang ada di luar daerah smoga apa yang dicita-citakan terkabul. AMiiiin…..
    Salam buat keluarga..
    From seperjuangan di SD.

  7. Iccank, Terima kasih atas doanya. Semoga sukses selalu juga menjadi seorang pendidik yang melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang cerdas. Selamat juga sudah menjadi PNS, Kapan2 bisa main ke tempat Iccank kalau saya balik ke Jeneponto nah. Masih di BTN Romanga kan?. Soalnya rumah yang di BTN sudah dijual sama orang tua jadi tidak pernah lagi ke sana.Salam sama bapak dan ibu ya.

    Wassalam

  8. Oh iya, Saya ingin bercerita sedikit tentang Iccank yang sudah memberikan komentar ke blog saya. nama lengkapnya Ihsan Fajar, Beliau adalah teman seperjuangan/sahabat saya dulu di SD Inpress Romanga Jeneponto. Sebenarnya saingan juga karena beliau sangat cerdas dengan tulisan yang sangat indah. Jadi terkadang pinjam catatannya. Setelah lulus SD kami berpisah, Ihsan tetap di Jeneponto sedangkan saya melanjutkan SMP di Makassar. Sejak saat ini kami jarang berkomunikasi lagi. Apalagi setelah orang tua saya pindah dari rumah yang kami tempati dulu..Itu sedikit cerita tentang seorang Ihsan Fajar.

  9. iccank says:

    By the way, udah ada keponakan? BOleh nggak dikirimin no hp n alamat emailnya?

  10. Istri sementara hamil 4 bulan Iccank. nomor HP via e-mail ya. E-mail saya: kari@debianindonesia.org

    Salam

  11. yaya says:

    kenangan SD mengingatkan akan kampung halaman………….sdh 5 taon .ngk pulkam………….Kari?!!!!!!!!

    salut atas alumni SD Romanga………

  12. Suranto says:

    Wah, aq jd penasaran ne. Jd pengen tau gmana tntg sulsel. Secara, gw org batak yg tinggal di pedalaman sumatera utara. .
    Salut, hanya dgn tulisan, akhirnya teman wakt sd dl jd teringat berkat ketemu teman. . .Salam y mas. .Horas

  13. noer rahman says:

    alhamdullilah..nia’ tonja paeng putra daerahna jeneponto yang punya dedikasi untuk memajukan daerah, walau hanya melalui tulisan..
    salam kenal kanda..
    namakoe noer rahman.. tinggalnya di ujungloe..kelurahan biringkassi kec.binamu kab.jeneponto…
    kutayangi tulisanta maraenga…
    semoga sukses…

  14. Ihsan says:

    Klo pengen lihat lebih dekat kota kami kunjungi linknya http://www.jenepontokab.go.id

  15. Jarang balibi ri Bangkala, sa’mangnga di Binamu, Arungkeke ambangung mako naik, pasironrongngi Tarowang.

    Inilah kata-kata semangat orang tua dulu, untuk membangkitkan butta Turatea.

    Kuda-kuda Jenepoto sekarang sudah besar-besar, akibat perkawinan silang kuda dari Manado dengan kuda lokal, khususnya di kecamatan Bangkala, sehingga kuda-kuda tersebut kalau ikut pacuan baik diarena di Sulbar maupun arena pacu di Makassar dan Jeneponto selalu juara.

    Tabe’ salamakki…

  16. Wawan says:

    Ceritanya buat kita jadi penasaran.. Tanya dikit dong daeng. klo dari makassar pake transportasi apa ya? oleh2nya selain “Jarang” apa lg?

  17. yayat says:

    maaf kanda, selain yang ada ditulisan kanda azikin, masyarakat jeneponto sangat terkenal sebagai masyarakat yang senang berkebun, kontur wilayah jeneponto sebagian besar adalah highland, soal berkebun masyarakat jeneponto sangat telaten, ulet dan banyak pengalaman..mulai dari jagung, cabe, labu manis, jagung manis, ubi kayu, dan yang paling juara adalah sayur pedalaman jeneponto. orang jeneponto sudah ada dimana mana disemua wilayah sulawesi selatan(itu yang saya tau) mereka ada dienrekang, luwu utara, sidrap, dan wilayah wilayah yang berbasis perkebunan..
    utamanya jagung……

  18. turatea says:

    Wawan @: kalo dari makassar langsung saja ke terminal sungguminasa (Gowa) cari mobil Panther tujuan Jeneponto (banyak ko’ mobil yang mo antar ke Jeneponto & jangan malu bertanya)

  19. burhan munawir says:

    cerita yang sangat menarik sekali, cerita yang mengingatkanku 20 tahun yang lalu tentang daerah ini, saya juga asli jeneponto yang sementara ini bekerja di perantauan, saya lahir dan besar di jeneponto, menyelesaikan s1 di universitas al-azhar di negara Mesir dan menyelesaikan s2 di universitas islam negeri Jakarta, dan sekarang bekerja sebagai PNS di salah satu instansi pemerintahan, teramat ingin rasanya kembali kesana untuk membangun butta turatea untuk bisa sejajar dengan daerah lain, orang jeneponto dengan siri’nya tidak boleh kalah dengan daerah lain, saya tiga bersaudara bisa bekerja dan bisa sukses di daerah lain, dan banyak lagi orang jeneponto yang sukses, bahkan ada yang bisa menjadi rektor di sebuah universitas negeri, maju terus putra turatea, dengan siri kita bisa menaklukkan dunia, paratei turatea

  20. zancreaz says:

    pengen main ke jeneponto by ian orang bandung

  21. Jeneponto Kampongku says:

    Alhamdulillah…setelah baca tulisan ta, saya jdi bangga sbagai putra asli turatea “JENEPONTO”. Hanya Jeneponto yg punya karaeng n gantala jarang.
    Ku sapui barambangku karaeng ka jai tonji pale sa’ribattangku sukses ri kamponna taua.
    sya juga ank rantau, lahir n besar di jeneponto smpai SMP, SMA d makassar. Setelah tamat sya angkat kaki dr kmpung utk mngadu nasib di kmpung orng n alhamdulillah skrng sya sdh dpt pkrjaan tetap smbil melanjutkan pndidikanku, 2 tahun lalu selesai S1.
    A’bulo sibatang…Accera’ sitonka-tongka.
    Tabe’ lompo karaeng…sala’ki ngase ri kamponna taua.

  22. untuk saat ini, putra-putri jeneponto masih banyak yang ‘betah’ diluaran sana. (saya juga termasuk yang baru kembali ke daerah tahun 2009 lalu). bukan tidak mau kembali untuk membangun daerah, tapi jujur saja, jeneponto butuh perubahan pola pikir dulu. kalau masih ‘betah’ dengan mindset lama, kita tidak akan bergerak, stagnan atau malah mundur ke belakang, karena kita masih sibuk untuk saling menjaga kepentingan pribadi, kelompok dan strata sosial. mestinya semua energi tercurah untuk kepentingan masyarakat, bukan kepentingan yang mengatasnamakan masyarakat.
    semoga penyadaran itu segera hadir di diri orang jeneponto.

  23. Jd terinspirasi dch..
    membuat tulisan tentang jeneponto..

  24. Syamsulakbar syarif says:

    @kak Askari Azikin : emang posisinya sekarang dimana kanda.., tulisannya mengingatkan dengan kota halaman, saya juga sekarang ada di tangerang selatan lagi berjuang menyelesaikan S1, by the way blog ini selain ngebahas tentang budaya blog ini juga ngebahas tentang linux ya kanda?? ehhhmmmm ki ajari saika kodong.

  25. Saya kerja di Ericsson Pondok Indah, dan tinggal di radio dalam.

  26. irfan jaya says:

    salut bro atas artikelnya, sedikit saran profesi orang jeneponto sebagai tukang becak dan kuli bangunan bukanlah pekerjaan rendahan. mereka seperti itu karena kesejahteraan yang belum merata. semoga artikel ini di baca oleh orang yang tahu memperbaiki kesejahteraan masyarakat jeneponto.

  27. Saya tidak menulis pekerjaan rendahan tapi masyarakat bawah (* dari sisi penghasilan).

  28. Ini artikel bagus daeng, dr awal sy baca artikel sampe akhir, ada yg buat mata sy berkaca-kaca yaitu banyakx tukang becak yg didominasi oleh orng jepot, dan itu menandakan msh bxk masyarakat jeneponto yg blum merasakan kesejahteraan didaerahx sendiri, walaupun tukang becak itu adalah slah satu profesi jg. Sy harapkan dan smoga jeneponto kedepanx lebih sejahtera dan makmur baik dr SDA dan SDMx, dan mempunyai pemimpin yg bs memajukan *butta turatea* lbih baek lagi Amin…
    SALAM KENAL DAENG …

  29. daeng leewank says:

    unsur pemerintahan di Kab. jeneponto baik eksekutif, legislatif bahkan yudikatif seharusnya memperhatikan nasib Masyarakat menengah ke-bawah, yang mana sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani, pada dasarnya kami sangat mendukung program pemerinta kab. jeneponto yg menitikberatkan pada peningkatan mutu Pendidikan tatapi sangat ironis ketika pemerintah tidak memahami kultur masyarakatnya sendiri, jika sektor pertanian mendapat perhatian serius (terutama pembangunan Bendungan) yang akan memenuhi 70 % kebutuhan pengairan baik sawah maupun perkebunan, jika ini terpenuhi maka yakin masyarakat akan semakin sejahtera, kualitas pendidikan akan dengan sendirinya mengalami peningkatan, Rakyat sejahtera akan mengurangi penyakit sosial yg sangat meresahkan yaitu banyaknya kasus pencurian dan sebagainya.

  30. abdul rauf alauddin said says:

    sedih membaca tulisannya daeng, dari masyarakat bawah hingga yang dibanggakan oleh kita putra/i turatea, kelak kita yang punya pemikiran seperti ini harus memimpin jeneponto, banyak orang pintar di jeneponto cuman nasib mereka yang membuat mereka harus bekerja keras…. kedepan jeneponto akan lebih baik dan itu adalah cita-cita saya….

  31. ilham says:

    sy jg alumni sd romanga daeng,dan tinggal jg d btn romanga

  32. Hamzah says:

    subhanallah…
    kaget dan senang bisa berada di web ini, ternyata aku tidak sendiri… ” i’m not alone …!

    berawal dari googling tentang “load balancing untuk server debian” hingga ke web ini, eh malah dapat artikel tentang “butta turatea…” hehheeh

    hal yang saya senangi adalah bahwa ternyata pengguna linux bukan hanya saya seorang sebaga “tau jeneponto”

    jika masih ada waktu ke jeneponto lagi, kami akan sangat senang kalau anda menyempatkan waktu berkunjung ke Tanatoa tepatnya SMKN 4 Jeneponto….

    see u on another place… gotcha!

  33. Orang tua saya di Jeneponto dan Insya Allah setiap tahun kami usahakan untuk lebaran di sana

  34. iccank says:

    Hamzah: Penulis ini kebetulan teman seperjuanganku di SD

  35. Ithunk says:

    Salam kenal buat Askari Azikin, dan teman2 yang lain. Jeneponto memang telah memang kota kenangan, kota kecil yang membentuk karaktek para pemudanya dengan karakter keras, tegas, namun lembut. Jeneponto aku kan kembali walau hanya beberapa hari. salam kenal. www,edunomic.net

  36. ibrohim says:

    Assalamu alaikum,sy putra jentak,sarroanging tamalatea,SD di sd inpres tamanroya’salam kenal,masyaa Allah blognya,juga baiknya jentak dikuatkan pengetahuan agamanya,di benarkan aqidahnya,krn banyak saudara kita yg blum sholat dn wanitanya yg blum berhijab syar’i,klu ini terlaksana i’Allah jentak akan mndapatkan janji Allah,utk makmur sentausa.

  37. Betul, saya sangat sependapat 100% dengan Anda!!

  38. Mei 7 2013 says:

    Semangat putra daerah…..tingkat prestasimu bangun daerahmu.. Dengan intelektual yg luas serta spiritual yg mendalam,teruslah berdoa dan berusaha…generasi mudalah yg kini di nanti oleh jeneponto… Spirittttt

  39. Semangat yahh semua…..SAYA mamat nak bangkala mengenyam pendidikan sekarang di jawa barat depok harap doanya yah semua agar di perlancar prosesnya dan bisa pulang kembali ke tanah kelahiran dan sama sama membangun jeneponto dan mengabdi pada daerah…. We love jenepontooooooooo ” salama’ ngasengki nahhhhh” AMIN

  40. Muh.Jufri says:

    Jeneponto Buttata kalassukanta,walupun kujauh darinya namun selalu ku berdoa semoga Jeneponto Kedepan dapat memiliki Pemimpin yang Amanah,yang mengerti tentang kondidsi dan kebutuhan Masyarakatnya

  41. kasma daeng chaya says:

    aq bangga bunaget menjadi anak jeneponto,tamanroya,karna tlah ditanamkan siri’,sifat rasa malu..ilove you jeneponto,tamanroya
    cera’ sitongka-tongka,aklampa ko pa’risiammantangko siri’.

  42. irwan_daeng says:

    satu hal yang anda lupa, memang orang tua kami orang jeneponto adalah dominan pekerjaan sehari-harinya tani,nelayan,buruh dan tukang becak yg seperti yg anda katakan tadi, tp hasil dari jeri payah orang tua kami, anaknya rata2 menjadi seorang PNS,pegawai pemerintahan,TNI dan POLRI atau pekerja swasta lainnya. saya rasa anda belum begitu mengenal tentang JENEPONTO. dan masalah tempat pelacuran itu, bukan nya tempat seperti itu hampir disetiap daerah kabupaten ada tempat seperti itu, jangan karena ad tempat seperti itu anda sudah memponis daerah kami seperti apa yg anda katakan ditulisan anda itu,..yg harus nya yg anda angkat dalam cerita adalah kebiasaan adat perkawinan orang jeneponto yang menurut saya unik untuk anda bahas,…dan adat kebiasaan orang JENEPONTO lainnya,….ANDA BUKAN ORANG JENEPONTO,,,…

  43. sukma says:

    aku bangga menjadi putri je’neponto butta turatea yg khas denga ganja(gantala jarang) bukan hanya itu,je’neponto memang sangat kental dengan yg namanya” siri’ dan pacce” yg artinya “rasa malu yang tinggi dan sakit yang m’dalam apabila di injak injak harga dirinya…

  44. kalaw pikiran saya it warga jeneponto makin baik2 aja kehidupanx…..
    yg lebih parah it yg tinggal di ibukota…

    paentengi siri’nu..
    pakalompoi paccenu….

  45. azhar says:

    yang saya salut dengan orang jeneponto saat ini adalah semangat orang tua untuk menyekolahkan anaknya, meskipun keadaan ekonomi yang kurang, saya menyaksikan sendiri beberapa tetangga saya yang pekerjaannya tukang becak tapi anak-anaknya semua berhasil, prediksi saya kedepan kualitas pendidikan jeneponto khususnya yang tinggal di makassar akan menempati peringkat atas dibanding dgn kab lain di sulsel, oh ya saya sendiri orang sinjai, keep fight brother, trims

  46. Rahmat Saifullah says:

    Sebuah blog yang cukup menarik, menjelaskan secara objektif tentang apa dan yang seharusnya dijelaskan. Rangkaian kata yang persuasif dan memiliki lilitan motivasi yang sangat kuat.
    Hidup adalah perkara pilihan…. meninggalkan zona nyaman, atau tetap tegar dengan julukan “pabambangang na tolo”.
    Menjadi lebih baik bukan perkara instan, kesungguhan melalui itu semua adalah seni kehidupan yang tak mungkin diperankan orang lain, melainkan kita sendiri.
    (Rahmat saifullah, alumni Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta)

Leave a Reply

Youtube Video