Today is: Friday, 21st November 2008
Register | Log in

Blog ini penulis buat untuk menuangkan kisah perjalanan yang sangat berharga, ide-ide kepenulisan yang belum sempat dituangkan dalam buku, aktifitas kepenulisan serta pengalaman hidup yang mungkin saja bisa bermanfaat bagi orang yang membaca blog ini. Tulisan yang ada di blog ini tidak pernah bermaksud untuk menggurui pembaca..

Bagaimana menerbitkan buku

Saat berselancar ke website belajarmenulis.com, terdapat sebuah iklan buku baru yang telah ditulis oleh Jonru. Walaupun saya sendiri belum membeli dan tentunya belum membaca buku ini, kelihatannya sangat menarik.

Buku ini dapat dijadikan pegangan bagi seorang penulis yang berminat menerbitkan buku hasil karyanya. 13 November 2007 lalu saya juga sempat mengangkat sebuah tulisan tentang bagaimana menerbitkan buku ke penerbit yang bisa dijadikan sedikit tips bagaimana hasil karya kita dapat diterbitkan oleh penerbit. Terdapat pula contoh dan petunjuk serta format standar oleh penerbit Elex Media Jakarta jika memang tertarik menerbitkan buku ke penerbit tersebut, pembaca dapat men-download di sini.

Mode on “Bergegas ke toko buku”. Buku yang ditulis oleh Jonru berisi pokok-pokok bahasan sebagai berikut:

1. Prosedur pengiriman naskah ke penerbit.

2. Mempelajari karakter penerbit.

3. Kelengkapan naskah (unsur-unsur apa sajakah yang harus dikirim kepada penerbit?)

4. Peluang penulis pemula.

5. Apa yang bisa dilakukan penulis dalam masa tunggu?

6. Masalah honor atau royalti atas buku Anda yang diterbitkan.

7. Perjanjian penerbitan buku. Apa saja yang perlu Anda ketahui?

8. Kiat memilih penerbit.

9. Seluk beluk self publishing (terbitkan sendiri buku Anda!)

10. Pendanaan penerbitan buku.

11. Proses penerbitan buku.

12. Menentukan dan mendongkrak nilai jual buku Anda.

13. Kiat memilih percetakan.

14. Seputar perizinan, ISBN dan penamaan penerbit.

15. Seluk-beluk pengurusan ISBN.

Sumber informasi ini penulis peroleh dari website http://www.naskahoke.com/e-mbig/.


Sebuah kantor yang sangat nyaman

Saat ini penulis benar-benar betah dengan kondisi kantor tempat saya bekerja sekarang. Mengapa demikian?. Saya sendiri tidak pernah membayangkan akan berkantor di Jakarta pada sebuah gedung yang tidak bertingkat dan seluruh pekarangan kantor terdapat pohon-pohon yang sangat rindang, nyaman bukan?. Inilah alasan utama mengapa penulis sangat betah berada di kantor saat ini. DI kantor pusat yang letaknya tidak terlalu jauh dari EO2 adalah sebuah bangunan bertingkat dengan belasan lantai. Beberapa tawaran untuk pindah departemen namun langsung saya tolak karena suasana yang tidak mungkin bisa saya dapatkan kembali jika berada di gedung yang lain.

Saat hujan tiba, suasana menjadi sangat nyaman karena tiupan angin yang disertai hujan membawa kesejukan tersendiri. Berikut photo yang sempat penulis potret kemarin saat magrib menjelang..

Photo-Photo di Outing Ericsson - Bali

Beberapa photo yang sempat penulis potret selama outing 2008. Photo berikut sesaat teman-teman Ericsson akan melakukan snorkling di Nusa Lembongan - Erik sedang berpose ala seorang snorkler profesional.

Hari kedua adalah rafting, berikut photo-photo yang sempat diambil oleh Baim.

Kalau photo berikut diambil oleh Ganang sebelum keberangkatan menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta .

Di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Pagi ini waktunya untuk balik ke Jakarta setelah 3 (tiga) hari berada di Palembang. Penulis sengaja mengambil penerbangan paling pagi yakni jam 06.00 WIB dan perjalanan ke Jakarta ditempuh dalam waktu 47 menit. Cukup singkat memang jarak tempuhnya tapi  tidak mengapa karena penulis tidak akan merasa jenuh selama perjalanan.

Jadwal penerbangan jam 06.00 pagi maka check out dari hotel jam 4.30 WIB sehingga perut belum terisi sama sekali. Sarapan baru bisa terlaksana di bandara dengan menu pempek khas Palembang.

Photo di atas adalah suasana di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Pesawat yang parkir pagi ini adalah Garuda Indonesia, Lion Air dan Sriwijaya. Selain itu, penulis juga bertemu dengan teman kuliah dulu [Fatwa].

Liburan ke Bali Lagi - Outing Ericsson Indonesia

Hari ini tidak seperti biasa karena jam kerja dimajukan satu jam yakni pada pukul 7.00 WIB dan telah meninggalkan kantor pada pukul 15.00 WIB menuju bandara Soekarno Hatta. Kota tujuan kali ini adalah Denpasar Bali bukan untuk kerja melainkan refreshing yang “dihadiahkan” oleh kantor. Sebenarnya penulis malas untuk pergi selain karena waktu yang tidak tepat pada akhir pekan. Waktu akhir pekan bagi penulis adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga(istri) di Bandung. Maklum sehari-hari dihabiskan di Jakarta dan luar kota agar “dapur tetap ngepul” dan jika tidak berada di luar kota maka waktu weekend-nya akan dihabiskan di Bandung.

Oh iya, sehari-hari istri bekerja di Bandung sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta sementara penulis di Jakarta sehingga weekend adalah waktu yang sangat berharga bagi kami berdua. Memang ini adalah resiko yang harus kami tanggung berdua akibat perbedaan kota. Sesuai rencana kemungkinan penulis yang akan pindah ke Bandung untuk menghabiskan hari tua mendatang karena bagi saya , Jakarta sudah tidak layak lagi untuk dijadikan sebagai tempat tinggal dan terutama buat pendidikan anak-anak kedepannya.

Memang berada dalam “zona aman” adalah bagaikan sebuah kue yang sangat lezat dan sangat sayang untuk ditinggal tapi hidup tidak selamanya kan?. Hidup terus bergulir dan hidup manusia selalu berada dalam pilihan hidup.

Balik lagi ke pokok bahasan yakni liburan ke Bali, tempat yang akan kami kunjungi pun tidak berbeda dengan liburan/outing yang diberikan oleh PT. Siemens Indonesia saat masih bekerja di sana. Rutenya Denpasar - Nusa Lembongan - dll..

Sekian dulu informasi jalan-jalan kali ini dan akan di-update setelah perjalanan ke Bali hari ini dan 2 hari kedepan.

Update:

Lanjutan cerita selama liburan di Bali silahkan berselancar ke link ini.

Sumber gambar: http://phasezero.ca/img/space/travelling.jpg

Suasana pagi di suatu hari di Bandara Hasanuddin

Seperti biasa kali ini adalah perjalanan pulang dari Makassar ke Jakarta dengan penerbangan paling pagi dari Makassar. Hari ini adalah kali pertama saya masuk ke bandara Hasanuddin yang baru dengan desain mirip dengan perahu tradisional suku Bugis/Mandar/Makassar (Pinisi’). Kalau diperhatikan desain interiornya hampir mirip dengan bandara Juanda di Surabaya.

Keberangkatan pesawat jam 7.00 pagi WITA dan penulis sendiri telah berada di ruang tunggu pesawat jam 5.30 WITA atau waktu Indonesia bagian tengah, memang ada selisih dengan waktu Jakarta 1 jam lebih awal. Dengan desain ruang tunggu pesawat yang begitu elegan dan minimalis dan ruangan yang seluruhnya transparan sehingga penghematan penggunaan lampu mulai subuh hari dapat dilakukan.

Berikut adalah photo yang berhasil penulis ambil di ruang tunggu keberangkatan.

Suasana di pagi hari yang cerah ini dan matahari pagi yang masih tersipu malu dan perasaan malas sehingga  ia (matahari) masih bersembunyi di balik awan dan tampak begitu indah- Terima kasih Ya Allah atas seluruh nikmat yang diberikan kepada seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini. Udara yang masih segar tanpa polusi yang selalu menghantui membangkitkan semangat untuk terus bekerja dan memulai seluruh aktifitas di pagi hari ini. Tambahan photo di ruang tunggu yang masih kosong..

Keputusan untuk menjadi seorang penulis sebagai profesi utama

Tulisan ini tidak untuk menggurui pembaca. Semata-mata penuangan ide tulisan yang ada di otak saya dan tentunya adalah harapan dan cita-cita saya semata.

Garis tangan tentang jalan hidup seseorang telah ditetapkan oleh Allah SWT, tapi tidak seorang pun yang dapat mengetahui jalan hidupnya akan seperti apa nantinya. Manusia hanya diberikan jiwa dan raga untuk berpikir dan bekerja keras untuk menggapai tujuan hidupnya. seluruh keputusan akan kemana arah hidup kita hanya dapat dicita-citakan dan tentu saja dengan usaha dan kerja keras, tidak dengan bersantai ria dan hanya mengharap durian akan jatuh dengan sendirinya. Jangan pernah berharap….

Termasuk untuk menjadi seorang penulis, bagi saya keputusan untuk menjadi seorang penulis adalah pilihan hidup selain menjadi seorang karyawan. Saya sadar bahwa untuk menjadi seorang penulis secara total masih terlalu dini karena masih banyak hal yang perlu saya pelajari di luar sana. Namun suatu saat, jika keuangan keluarga sudah relatif stabil alias relatif mapan maka penulis akan mengambil jalan hidup yang sedikit relatif berseberangan dengan kebanyakan orang, Yakni menjadi seorang PENULIS sebagai profesi utama dan pekerjaan lain adalah sambilan. Sehingga akan lebih banyak waktu bersama dengan keluarga dan dapat mendidik anak-anak dengan baik jika suatu saat nanti telah dikarunia oleh Allah anak, mengantar istri ke kampus dan kembali ke rumah untuk menulis dan menulis lagi. Semoga mimpi ini segera terwujud, Amin..

Sumber gambar - http://www.barbsbooks.com/

Kartu Lebaran dari Elex Media Komputindo

Beberapa minggu yang lalu penulis mendapat sebuah surat dari PT. Elex Media Komputindo Jakarta. Kebetulan istri saya yang terima surat tersebut di Bandung. Beliau cuma ngirim sms bahwa k’ari ada surat dari Elex Media yang isinya sebuah kartu lebaran.

Di halaman dalam terdapat beberapa tanda tangan mulai pimpinan redaksi, editor termasuk Ibu Linda selaku editor buku penulis yang telah diterbitkan oleh Elex Media. Lumayanlah menambah semangat untuk tetap menulis. Berikut tambahan hasil scanning untuk lembaran yang lain.

Selain dari Elex Media, penerbit Andi Offset Yogyakarta juga mengirimkan kartu lebaran serta kalender pada akhir tahun, tentu saja dengan embel-3mb3l dan logo penerbit.

Pekerjaan yang Terlalu Dipaksakan

Akhirnya bisa menginjakkan kaki kembali ke Padang setelah hampir 2 tahun. Kepergiaan ke Padang dalam rangka tugas kantor. Jarak Jakarta-Padang ditempuh selama 1 Jam 30 menit. Sebenarnya kerjaan di Padang terlalu dipaksakan karena gedung tempat perangkat MSC-Server serta MGw terpasang belum layak karena masih banyak debu (Perangkat-perangkat telekomunikasi cenderung sensitif terhadap debu).

Masker seharusnya tidak perlu digunakan dalam kondisi ruangan yang bersih dari debu. Kalau helm proyek yang ada di kepala saya adalah pinjaman dari kontraktor bangunan agar terkesan lebih keren padahal seharusnya tidak penting digunakan selama berada dalam ruang, tapi di luar ruangan sebaiknya digunakan karena resiko kecelakaan kerja cukup tinggi..hehehe…

Untuk makanan tidak menjadi permasalahan bagi penulis karena selera cukup sama dengan lidah orang Padang dengan santan dan pedas ala cabe Padang. Sekian perjalanan kali ini di kota Padang- Sumatera Barat. Sampai jumpa pada tugas dan tempat yang lain..

Kerja sambil liburan

Judul ini sengaja penulis angkat karena harus saya akui tingkat kejenuhan cukup tinggi saat sedang bertugas ke luar kota. Kerjaan kami sebagai orang vendor telekomunikasi terutama di departeman kami lebih banyak dihabiskan di site - istilah orang telekomunikasi “site” kantor customer (Telkomsel, Indosat, XL, NTS, dll). Bagi kami yang kebetulan diberi tugas untuk menangani project Telkomsel cenderung dihinggapi rasa bosan karena waktu yang dihabiskan di site lebih dari 2 Minggu walaupun kebanyakan nganggur alias menunggu kesiapan sistem lain yang terkait dengan perangkat kami.

Bulan Agustus lalu kebetulan saya ditugaskan untuk bring up MSC-Server baru sekaligus untukrehoming satu BSC di Pematang Siantar - Sumatera Utara. Sebagai orang muslim memang agak sedikit kewalahan untuk mencari makanan halal di sana dan terlalu banyak (maaf) anjing peliharaan masyarakat setempat sehingga harus berhati-hati dengan kotoran ataupun air liur sang anjing.

Karena kejenuhan yang menghinggapi setelah 2 minggu, akhirnya kami (saya dan Asep Supriadi) memutuskan untuk menginap di danau Toba bersama pak Zaenal-driver Asep selama di Sumut. Jarak Pematang Siantar ke Danau Toba hanya ditempuh kurang lebih satu jam perjalanan. Berikut photo-photo yang kami ambil pada salah satu sudut di sekitar danau Toba.

Gambar latarnya adalah danau Toba yang indah tanpa adanya kerusakan lingkungan, udara pagi hari yang masih sejuk membuat raga kita segar kembali untuk memulai seluruh aktifitas yang akan kita kerjakan pada hari ini.

Asep dan Pak Zaenal dengan latar awan di perbukitan yang berada di hamparan danau Toba.

Setelah photo dengan berbagai gaya, kami pun segera melanjutkan perjalanan kembali ke Pematang Siantar untuk memulai aktifitas pekerjaan kami. Sampai jumpa di danau Toba pada kesempatan yang lain.