Today is: Saturday, 5th July 2008
Register | Log in

BloG sederhana sebagai ajang penuangan ide

Tuliskan dan bagikan seluruh ilmu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.

Ayam Bakar Ala Kampung

Kebiasaan bakar ayam telah terjadi dari dulu dan merupakan tradisi keluarga kami di Jeneponto jika ada tamu yang datang. Tidak dengan menggunakan kompor gas atau alat pembakar yang lebih praktis tetapi menggunakan sabuk kelapa.

Aroma ayam yang dibakar dengan menggunakan sabuk kelapa tentu tidak sama dengan ayam yang dibakar dengan menggunakan kompor gas-misalnya. Ayam yang dibakar ala kampung atau tradisional ini jauh lebih enak dan empuk.

Jika di masyarakat kota, ayam bakar diberi bumbu kecap, cabe dan lain sebagainya, pada masyarakat Jeneponto menggunakan asam jawa dan garam serta air dicampur dalam sebuah wadah (piring) dan ayam bakar dicelupkan ke dalam piring tersebut. Rasanya sangat enak,..

Selain itu, kebiasaan orang tua dan penduduk Jeneponto pada umumnya adalah sayur daun kelor yang tentu saja bagi masyarakat Jawa tidak pernah memakan daun kelor tersebut. Pada masyarakat Jawa, kelor digunakan untuk orang yang telah wafat, betul tidak ya? tapi bagi masyarakat Jeneponto hal ini berlaku sebaliknya. Daun kelor dijadikan sebagai sayuran yang sangat enak.

Penasaran, silahkan datang ke rumah kami di Jeneponto…

Untuk Bekerja dengan Ikhlas, Caranya?

Selasa malam 26 Juni 2008 adalah perjalanan dinas ke luar Jakarta, kali ini adalah kota Makassar. Penerbangan dengan GA 612 tujuan JKT-Makassar ditempuh dengan lama perjalanan 1 Jam 50 menit.

Di ruang tunggu penumpang, sempat berkelanan dengan seorang pegawai negeri sipil yang berdomisili di Kendari. Beliau adalah seorang PNS yang cukup aktif dan sering melakukan perjalanan dinas ke luar kendari. Kebanyakan adalah Jakarta. Karena kesibukannya, ia harus meninggalkan keluarganya demi untuk tugas, hal ini juga terjadi dengan saya..Harus meninggalkan istri di Bandung. Dari obrolan panjang dengan beliau, akhirnya terlontar pertanyaan sepele dari saya tentang arti sebuah perjalanan dan tugas..beliau dengan lugas mengatakan: kunci dari segalanya adalah keikhlasan dalam menjalaninya.

Tapi bagaimana makna Ikhlas disini?..sungguh sebuah kata yang sangat sulit untuk direalisasikan dalam diri saya tanpa sebuah kerja keras. Bagaimana dengan Anda?

Hidup Kembali

Akhirnya bisa menulis blog lagi setelah 4 bulan server ini ditarik dari pasaran. oh iya, sejak kepindahan saya ke Jakarta karena kontrak Managed services PT. Telkomsel dan PT. Ericsson Indonesia berakhir, akhirnya seluruh staff/karyawan Ericsson yang berada di regional harus ditarik ke Jakarta. Rencana awal server saya juga akan diangkut ke Jakarta dan collocation yang awalnya di Internux juga akan dipindahkan ke Jakarta demi untuk kemudahan pemeliharaan server. Tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya pilihan tetap jatuh ke Internux Makassar.

Thanks pak Adi Nugroho atas kesediaannya kembali menyediakan tempat untuk collocation server saya.

Potret Kehidupan Masyarakat “Butta Turatea” Jeneponto

Jeneponto adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Jeneponto terkenal juga dengan “Bumi Turatea” dan identik dengan kota “KUDA”, Ya kota kuda. Jika Anda telah masuk ke pusat kabupaten yakni di Bontosunggu [ibukota kabupaten Jeneponto] maka lambang yang Anda akan lihat adalah sebuah patung kuda.

jeneponto.jpg

Melanjutkan pembicaraan tentang julukan “Kuda”, hal ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Jeneponto yang gemar memakan kuda. Di pasar-pasar tradisional akan sangat susah untuk mendapatkan daging lain selain daging kuda bahkan tidak ada.

Jarak tempuh dari Makassar ke Jeneponto 2 jam perjalanan dengan jarak 95 km. Perjalanan ke kabupaten Jeneponto akan melewati 2 kabupaten yakni Gowa dan Takalar. Saya sendiri adalah asli Jeneponto yang terlahir dan sempat mencicipi pendidikan di sana walaupun hanya sampai sekolah dasar saja, sisanya dihabiskan di Makassar dan Bandung. Tapi saya tidak akan berbicara tentang riwayat pendidikan saya di sini, penulis ingin mengupas tentang kabupaten ini ditinjau dari dua sisi.

Sisi pertama adalah julukan miring atau cenderung mengarah ke hal yang negatif dan sisi baik dari pandangan kacamata saya sebagai putra daerah yang pasti bersifat sangat subyektif. Tapi tidak mengapa, setidaknya dapat memberi gambaran sedikit tentang kabupaten ini.

Jeneponto dikenal dengan istilah “Pa’bambangang Na Tolo” adalah istilah dalam bahasa Makassar yang berarti sering marah tapi berotak dugu. Inilah istilah yang melekat cukup erat terhadap masyarakat Jeneponto sampai saat ini. Memang harus saya akui bahwa dari persentase para pejabat di kota Makassar jika kita mengambil sampel ini maka kenyataannya memang demikian, para pejabatnya didominasi oleh suku bugis meliputi kabupaten Bone, Sinjai, Wajo, dll. Sementara penduduk Jeneponto yang tinggal di Makassar kebanyakan kalangan bawah yang tidak berpendidikan dengan pekerjaan adalah tukang becak, kuli bangunan, buruh pelabuhan dan lain sebagainya walaupun pekerjaan ini bagi saya bukanlah pekerjaan hina karena halal daripada kerja di pemerintahan dengan mengambil hak orang lain dan korupsi.

Sesekali saya naik becak dari kantor ke rumah yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dengan biaya sebesar Rp. 7.000 untuk sekali jalan. Dari obrolan di jalan, setiap tukang becak yang saya tanya adalah berasal dari Jeneponto. - kasian juga. Beruntunglah dan harus saya syukuri karena dapat mencicipi pendidikan tinggi dan nasib sedikit lebih beruntung dari mereka.

Pedih rasanya hati ini jika menyaksikan semua ini, kok harus Jeneponto?..Apakah orang-orangnya bodoh sesuai dengan julukan bagi masyarakat Jeneponto, atau bagaimana?. Tapi harus bagaimana lagi jika kenyataannya memang demikian. Saya pun tidak akan larut dengan pembahasan ini karena lebih tertarik untuk mengangkat tentang budaya masyarakat Jeneponto serta kondisi kabupaten ini.

horse-beach.jpg

Jeneponto sangat khas dengan makanan tradisional “Coto Kuda dan Gantala Jarang”, Jarang=Kuda (Bahasa Makassar). Saya sendiri senang makan coto kuda ini karena telah terbiasa dari kecil sampai sekarang. Jika ada kesempatan untuk ke sana terutama saat liburan idul fitri maka keluarga pasti akan menyiapkan santapan makanan dari olahan daging kuda. Bagi Anda yang tidak terbiasa dengan makanan ini pasti tidak akan berselera untuk mencicipinya. Tapi masyarakat Jeneponto tidak demikian, dalam pesta-pesta pernikahan tidak akan sah atau ada sesuatu yang kurang jika tamu tidak disuguhi dengan hidangan GANTALA JARANG.

Tentang rasa?. tidak berbeda jauh dengan daging sapi akan tetapi sedikit lebih kenyal. Tapi bagi masyarakat Jeneponto terdapat mitos bahwa dengan makan daging “Jarang” akan memiliki stamina kuat dan pada dagingnya terdapat banyak zat-zat anti tetanus walaupun belum dibuktikan secara medis.

Daerah ini dikenal cukup tandus apalagi saat musim kemarau tiba. kondisi tanah yang tidak bagus bahkan retak-retak menyebabkan tumbuh-tumbuhan akan sangat sulit untuk hidup. Gambar berikut adalah kondisi tanah di Jeneponto yang saya potret saat pernikahan kakak saya tahun lalu.

dsc_0176.JPG

Inilah gambaran betapa tandusnya tanah di Jeneponto saat musim kemarau datang. Kondisi suhu pun sangat panas pada saat itu.

dsc_0178.JPG

Mata pencaharian penduduk Jeneponto sebagian besar adalah petani, nelayan rumput laut, nelayan penangkap ikan, serta Petani garam.

dsc_0184.JPG

Gundukan berwarna putih tersebut adalah garam yang sudah siap untuk dimasukkan ke dalam karung untuk selanjutnya dijual.

Sisi negatif lain Jeneponto adalah terdapatnya [maaf] tempat pelacuran kelas teri yang dihuni oleh wanita-wanita di daerah ” Karama’ ” sebelum tikungan tajam dan menurun jika arah kita dari Makassar. Hal ini dapat saya simpulkan secara subyektif karena jeratan kemiskinan yang merajalela sehingga mereka mau melakukannya walaupun dalam hati kecilnya pasti akan berpikir menolak “Pelacuran”.

dsc_0180.JPG

Hal lain yang dapat Anda jumpai dalam perjalanan ke Jeneponto adalah jualan “Ballo Tanning” yang berarti tuak manis yang diproduksi oleh pohon lontar atau dalam bahasa Makassar “Tala’ “. Rasanya memang manis dan tidak memabukkan.

Sisi positif dari Jeneponto adalah budaya siri’ [rasa malu yang tinggi] untuk hal yang jelek-jelek walaupun juga dimiliki oleh hampir seluruh suku di Sulawesi Selatan, tapi budaya ini masih begitu melekat bagi masyarakat Jeneponto sebagai sebuah suku Makassar. Jika harga diri telah diinjak-injak maka mereka lebih rela untuk mati dari pada harga dirinya direndahkan oleh orang lain. Dan salah satu pompa pemicu keberhasilan adalah budaya siri’ ini yang harus melekat dalam diri setiap putra/i Turatea.

Jalur perjalanan yang dilalui sangat indah karena pemandangan pinggir laut dan petak-petak sawah untuk pembuatan garam dapat Anda jumpai di sini.

Demikian sedikit oleh-oleh buat pembaca tentang khasanah tanah air Indonesia khususnya Butta Turatea Jeneponto.

Proyek Kamera Pengawas

Ingin bercerita sedikit tentang proyek pembuatan aplikasi kamera pengawas berbasis Debian Sarge. Penulis terlibat dalam proyek ini bersama beberapa rekan dan diorganisir oleh Bapak Ajat Sudrajat. Base pengerjaannya di Bandung karena sebagian besar tim kerja berada di Bandung.

Dari hasil diskusi yang dilakukan di rumah pak Ajat bahwa time limit pengerjaan harus selesai per April depan sementara saya masih sibuk mengurus kepindahan dari Makassar ke Jakarta. Jadi belum dapat memusatkan perhatian ke proyek tersebut. Memang diperlukan sebuah komitmen yang kuat untuk dapat melaksanakan dua pekerjaan sekaligus. Keduanya membutuhkan loyalitas dan ketekunan.

Komputer pun masih ada di Bandung sementara monitor ada di Makassar sehingga masih kesulitan untuk mengutak-atik si debian sarge ini. Mengapa memilih debian sarge untuk proyek kamera pengawas ini?. Ini sepenuhnya diputuskan oleh pak Ajat sebagai team leader dari proyek yang akan dilaksanakan ini.

Cari ke sana kemari ternyata debian sarge dalam bentuk DVD yang saya beli di gudanglinux masih tersimpan rapi di lemari. Maklum, sejak Debian Etch rilis dalam versi stabil, penulis langsung meng-upgrade ke versi tersebut. Tapi permasalahan berikutnya apakah DVD tersebut masih bagus atau sudah rusak karena termakan usia? saya sih berharap DVD tersebut masih dapat digunakan (paket-paket belum ada yang rusak).

img_1259.JPG

Agar tidak tertinggal di Makassar, DVD tersebut segera saya masukkan ke dalam tas tempat laptop dan seluruh peralatan kerja tersimpan. Sampai jumpa di Jakarta dan Bandung, semoga aplikasi ini cepat terselesaikan tanpa ada hambatan yang berarti.

Sumber gambar: http://www.videolan.org/

Ingin Mengangkat Tulisan Tentang Budaya Jeneponto

Saat ini saya sedang mempersiapkan sebuah tulisan tentang “Bumi Turatea Jeneponto”. Photo-photo tentang Jeneponto sudah saya siapkan saat melakukan perjalanan ke kampung halaman kemarin. Sabar ya, kabupaten di Sulawesi Selatan ini dikenal cukup terbelakang dengan berbagai julukan negatif yang melekat terhadapnya, tapi bagi masyarakat Jeneponto tidak begitu terganggu dengan julukan tersebut.

Saya sendiri ingin mengangkat dua sisi budaya Bumi Turatea Jeneponto sebagai suku Makassar yang terkenal dengan istilah “Pa’bambangang Na Tolo”

Balik Ke Makassar lagi

Setelah perjalanan panjang dari Makassar - Denpasar - Bandung - Jakarta dan kembali ke Bandung lagi Akhirnya hari ini merupakan hari terakhir dari cuti saya selama 2 minggu. Asyik juga bisa rehat sejenak dari aktifitas kerja untuk mendapatkan sebuah semangat baru. Berangkat dari Bandung pukul 3:30 Pagi dengan Xtrans travel di depan ciwalk Bandung. Seharusnya jadwal keberangkatan dari Bandung pukul 2:30 pagi tapi ternyata Xtrans tidak melayani antar jemput akhirnya ketinggalan.

Jam 3:00 saya mencoba menelpon travel tersebut dan menanyakan bahwasanya sudah jam 3:00 masih belum ada jemputan ke rumah. Uh..salah.”TIDAK ADA FASILITAS UNTUK ANTAR JEMPUT PAK, Semuanya harus berkumpul di Bumi Xtrans-” Wah jadi malu..Ya sudah saya harus menggunakan armada berikutnya. Perjalanan dari Bandung ke Cengkareng cuman menghabiskan waktu 2 jam. Selama perjalanan memang saya hanya menghabiskan untuk istirahat saja agar pagi hari tidak mengantuk di Bandara dan perjalanan ke Makassar.

Tulisan ini saya tulis saat menunggu keberangkatan pesawat karena mau membaca beberapa buku yang saya beli dengan istri di toko buku Gunung Agung tapi rasanya sedikit malas. Ya, sudah membacanya kita tunda dulu, biar di pesawat saja. Sekarang saatnya untuk ngeblog.

Bolak-balik Bandung-Jakarta untuk Interview

Hari ini merupakan hari yang begitu menyenangkan sekaligus melelahkan karena harus bolak-balik Bandung-Jakarta untuk keperluan interview dengan line manager baru karena keharusan untuk pindah ke departemen lain. Berangkat dari Bandung pukul 10 pagi dan sampai di kantor (Jakarta) jam 1:30 siang.

Shalat di mesjid Pondok Indah kemudian menuju EO2 untuk keperluan interview dengan bapak Agus Rotua. Proses interview hanya berlangsung tidak lebih dari 5 menit saja dan langsung kembali ke Bandung. Awalnya ingin ke departemen sebelumnya tapi berhubung masih cuti, akhirnya saya memutuskan untuk segera angkat kaki dari Jakarta. Alhamdulillah sampai di bis baru hujan lebat sehingga terhindar dari hujan.

Makan siang baru terlaksana di bis, kebetulan sang istri membekali makan siang sehingga langsung tancap.. Maklum untuk mencari makan siang di daerah Pondok Indah agak susah karena harus ke mall dan rasa malas yang menghinggapi sehingga saya putuskan untuk membawa bekal dari Bandung saja.

Sampai di Bandung pukul 5:30 sore, Alhamdulillah aktifitas hari ini selesai tinggal menunggu hasil saja.

Saat ini sudah pukul 22:23 malam dan mata sudah lima watt jadi tulisan ini harus dihentikan segera untuk istirahat. Ah tulisannya sampah lagi..

Kembali ke Bandung

Ah, tulisan ini cuma petikan perjalanan hidup dari hari ke hari dari seorang Askari Azikin yang tidak layak untuk dibaca orang lain karena saya yakin tidak akan bermanfaat bagi pembaca. Tulisan ini saya tulis sesaat setelah berada di kota Bandung. Setelah sekian bulan tidak ke Bandung, akhirnya kembali dapat menghirup segarnya udara kota kembang. Akses internet kali ini semata-mata untuk mengirim email ke kawan di Makassar untuk contoh penulisan report.

bandung_1.jpg

Selain menghabiskan liburan di Bandung, rencananya minggu depan akan ke Jakarta (Ericsson) untuk interview dengan line manager baru karena saya diharuskan untuk pindah departemen di Ericsson Indonesia. Beliau meminta saya untuk interview tatap muka untuk memastikan kalau spesifikasi kerja saya cocok dengan kebutuhan departemen tersebut.

Doakan saya ya semoga semua prosesnya lancar dan dapat berjalan sebagaimana mestinya, Amin…

Berlibur…

Saatnya untuk rehat sejenak dari aktifitas kerja yang sudah memasuki tahun ketiga selepas dari kuliah. Libur kali ini begitu istimewa karena telah ditemani oleh sang kekasih yang saat ini telah menjadi istri. Sehabis dari liburan, kami berdua akan melanjutkan perjalanan ke Bandung tempat istri saya bekerja. Banyak rencana yang telah ada dalam benak saya yang akan dikerjakan di Bandung. Ada janji untuk ketemu dengan ex IARD lab dan juga bertemu dengan seseorang yang rencananya ingin membeli produk dari tugas akhir yang dulu penulis kerjakan.

bali-sunset-jackinas.jpg

Semoga semua berjalan lancar nantinya, sekarang fokus ke liburan dulu di pulau dewata Bali. Tapi berhubung besok bertepatan dengan hari nyepi jadi harus kehilangan 1 hari untuk menghormati pemeluk agama Hindu yang mayoritas di pulau dewata ini. Perbekalan makan untuk besok telah saya siapkan hari ini karena seluruh toko yang ada akan tutup seharian penuh dan orang-orang yang ada di Bali tidak boleh berkeliaran keluar kecuali untuk melaksanakan shalat Jum’at. Kami sengaja menginap di hotel ini karena lokasinya bersebelahan dengan masjid sehingga tidak perlu berjalan jauh untuk melaksanakan shalat Jum’at.